SEJARAH DARI SARUNG

SEJARAH DARI SARUNG

Sarung adalah sepotong kain lebar yang biasannya digunakan untuk pakaian ibadah, atau upacara perkawinan atau bisa digunakan untuk santai-santai dirumah. Pemakaiannya dibebatkan pada pinggang untuk menutup bagian pinggang bagian bawah.Kain initerbuat dari kain berbahan: katun, poliester,atau sutera.

SEJARAH DARI SARUNG

Sarung ini berasal dari Yaman. Dahulu yang menggunakan sarung adalah suku badui yang tinggal di Yaman. Sarung dari Yaman itu berasal dari kain putih yang dicelupkan ke dalam neel yaitu bahan pewarna yang berwarna hitam. Biasannya Laki-laki mengenakan atasan baju koko dan bawahan sarung untuk sholat.

Sarung dan zaman perjuangan Pada zaman dahulu pada saat penjajahan Belanda, sarung identik dengan perjuangan melawan budaya barat yang dibawa para penjajah. Misalnya ada seorang tokoh KH Abdul Wahab Hasbullah, adalah tokoh penting di Nahdhatul Ulama (NU). KH Abdul Wahab Hasbullah pernah menghadiri undangan Presiden Soekarno. Ia datang menggunakan jas dengan bawahannya sarung. Padahal dalam acara ini biasannya orang mengenakan jas dilengkapi dengan celana panjang. Abdul Wahab ini tetap konsisten menggunakan sarung sebagai salah satu simbol perlawanannya terhadap budaya Barat. Ia ingin menunjukkan harkat dan martabat bangsanya di hadapan para penjajah.

Motif

Sarung dalam pakaian daerah ini dapat dibuat dari bahan tenun ikatsongket, serta tapis. Bahan tenun ini berasal dari daerah NTT, NTB, Sulawesi, dan Bali menggunaka. Sedangkan bahan songket, berasal dari adat Minangkabau dan Palembang. Untuk bahan tapis adalah kain khas yang berasal dari Lampung.

Sarung yang digunakan pada kain tenun dengan menggunakan motif yang sederhana, motif ini tidak terlalu ramai namun motif ini mengedepankan warna. Sedangkan tapis dan songket ini hampir sama. Namun keduannya masih ada perbedaan. Motif tapis memiliki unsur alam seperti flora dan fauna, sedangkan motif songket terlihat lebih meriah. Persamaan yang menonjol pada keduanya adalah terbuat dari benang emas dan perak.

Motif kain sarung yang umum dan kelihatan menonjol adalah garis-garis yang saling melintang. Nilai yang bisa diambil dari motif tersebut adalah setiap melangkah baik ke kanan, kiri, atas ataupun bawah akan ada konsekuensinya. Motif ini bisa dikatakan mirip dengan papan catur seperti sarung bali.

Sarung dinegara lain

Sarung biasannya dikenal futah, izaar, wazaar atau ma’awis dinegara Yaman. Di Oman, namun aja yang mengenal dengan nama wizaar dinegara Oman. Kemudian dikenal  dengan nama izaar dinegara Arab Saudi.

Masyarakat Yaman menggunakan Pakaian ini sebagai pakaian tradisonal. Hingga kini, tradisi itu masih tetap melekat kuat yang ada beberapa variasi, diantaranya model assafi, al-kada, dan annaqshah. Di dunia Arab bukanlah pakaian yang digunakan untuk melakukan ibadah seperti sholat. Bahkan di Mesir berfungsi sebagai baju tidur yang hanya dipakai saat di kamar tidur.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *